Budidaya Ikan Kerapu di Gunung

November 21, 2017 - Article blog

Kerapu adalah jenis ikan yang suka hidup di antara celah-celah karang atau di dalam gua dasar perairan. Budidaya ikan kerapu menjadi salah satu prospek yang menjanjikan. Harga ikan kerapu mencapai 150 ribuan per kilogram.  Biasanya ikan ini dibudidayakan oleh petani dengan Keramba Jala Apung (KJA) di wilayah pesisir laut.

Menurut Kabid Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Suwarman Partosuwiryo, tingkat konsumsi ikan di DIY dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Saat ini konsumsi ikan di DIY masih dibawah rata-rata perkapita/tahun nasional yang mencapai 38,78 kg/kapita/tahun. Sedangkan DIY  pada tahun 2012 tingkat konsumsi 14,54 kg/kapita/tahun, tahun 2013  naik menjadi 21,71 kg/kpt/tahun, dan tahun 2014 menjadi 21,74 kg/kpt/tahun.

Peningkatan ini diperkuat Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY, Sigit Sapto Raharjo mengatakan kebutuhan ikan di DIY saat ini per hari sebanyak 289 ton. Sedangkan kebutuhan per tahun sekitar 146.000 ton. Produksi ikan di DIY baru mencapai sekitar 70.000 ton per tahun belum dengan hasil tangkapan warga yang memancing di laut atau sungai. Artinya masih ada kekurangan sekitar 76.000 ton. Kekurangan pasokan ikan tersebut dipenuhi dari petani luar DIY seperti Jawa Timur.

Komoditas prioritas perikanan budidaya yang menjadi target dari peningkatan produksi ditetapkan sebanyak sembilan komoditas salah satunya ikan kerapu (Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (PPSEKP) 2012). Alasan itulah menyebabkan harga ikan segar menjadi mahal karena jauhnya perjalanan yang ditempuh hingga ke konsumen. Apalagi jika ikan tersebut berasal dari KJA. Selain itu resiko mati di perjalanan juga lebih besar karena proses pengangkutan ikan kerapu dari KJA ke pesisir menggunakan kapal. Sesampainya di pesisir, distribusi dilanjutkan menggunakan motor atau mobil untuk sampai ke konsumen. Hal ini otomatis membuat biaya transportasi yang dikeluarkan cukup banyak.

Kelemahan KJA lainnya yakni hama dan penyakit tidak terkontrol karena kondisi KJA di pantai lepas. Mengatasi hal tersebut PT Indmira Yogyakarta menerapkan sistem Recirculating Aquaculture System (RAS) untuk budidaya ikan kerapu yang efektif dan efisien. RAS yang diterapkan ini merupakan hasil riset yang telah dilakukan Indmira. Perusahaan ini berlokasi di dataran tinggi atau cukup dekat dengan lereng gunung merapi. Indmira melakukan inovasi air laut buatan budidaya ikan kerapu jenis hibrid yakni kerapu cantang. Tujuan Indmira menerapkan sistem RAS untuk memangkas jalur distribusi secara signifikan dengan memanfaatkan teknologi.

Pemanfaatan RAS menjadikan budidaya ikan kerapu bisa dilakukan di mana saja, termasuk di gunung. Secara umum, alat sistem RAS terdiri dari filter mekanik yang berfungsi sebagai penyaring air laut, filter biologis untuk menyaring zat-zat jelek dalam kandungan air seperti amoniak. Selain itu ada UV untuk membunuh kuman-kuman penyebab penyakit.

Beberapa keunggulan lain sistem RAS budidaya ikan kerapu seperti kepadatan penebaran budidaya mencapai 60-75 ekor per m3 atau 4-5 kali lebih banyak dari KJA yang hanya 15-20 ekor per m3, hama dan penyakit mampu diminimalisir karena kesalahan budidaya tergantung dari perawatan yang kita berikan serta dapat segera diatasi. Keunggulan lain, pakan lebih terkontrol dan efisien karena dibudidayakan di kolam yang sudah disesuaikan dengan kondisi ikan. Jika ikan tidak ingin makan lagi, maka pemberian pakan dapat dihentikan. Ini dapat mengehemat jumlah pemberian pakan yang diberikan atau pakan tidak terbuang sia-sia. Selain itu, biaya produksi lebih murah, lebih mendekatkan antara produsen dan konsumen, serta tidak terbatas lahan.

Menggeluti budidaya ikan kerapu tentunya tidak terlepas dengan kendala yang dihadapi. Salah satu masalah yang menjadi perhatian adalah petani masih menggunakan intuisi untuk menentukan kondisi air tambak. Beberapa petani sudah menggunakan alat pengukuran yang ada. Akan tetapi, banyak dari petani tidak mampu membaca makna dari hasil pengukuran dan bingung untuk melakukan tindakan selanjutnya apakah tambak dalam keadaan baik. Dampaknya petani mengalami kegagalan dalam berbudidaya karena kurang tepat dalam memberikan penanganan terhadap tambak mereka.

Permasalahan tersebut membuat Indmira dan Atnic mengembangkan teknologi Jala Tech. Jala adalah perangkat internet of thing (IoT) yang mampu memonitor kualitas air pada tambak udang atau ikan. Perangkat ini dapat mengatasi masalah budidaya dengan mengukur, menganalisa, dan memberikan semua rekomendasi berdasarkan kondisi kualitas air tambak.

Perangkat ini didesain untuk membantu petambak udang dan meningkatkan respon petambak dalam menjaga kualitas air dan mengurasi kesalahan penanganan dalam bertambak. Jala dapat mengukur oksigen terlarut, pH, salinitas,  dan, temperatur dalam satu perangkat gawai sekaligus. Melalui alat ini kita bisa mengakses kondisi air tambak udang kapan saja dan di  mana saja melalui gawai yang kita miliki. Keuntungan lain yang dimiliki seperti analisis data dan sistem pembuat keputusan, dan real time monitoring.

Kehadiran teknologi RAS dan Jala Tech ini diharapkan mampu menjadi solusi alternatif teknologi akuakultur yang dapat dikembangkan secara luas di Indonesia. Serta mampu memutuskan paradigma bahwa berbudidaya ikan kerapu tidak hanya bisa dilakukan di laut, tetapi juga di gunung.

Tri Umi Asni-Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Print Friendly

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *