7 Tips Menghalau Moler pada Bawang Merah

8 Agustus 2017 - Artikel blog

Permintaan bawang merah terus mengalami peningkatan seiring degan semakin meningkatnya jumlah penduduk. Berdasarkan Outlook Bawang Merah yang diterbitkan oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kemeterian Pertanian tahun 2015, proyeksi permintaan bawang merah di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 684.028 ton. Sementara untuk memenuhi permintaan akan bawang merah yang terus meningkat setiap tahunnya, beberapa petani bawang sering menghadapi kendala seperti serangan OPT (organisme pengganggu tanaan). Menurut Widjajanto dan Sumarsono (1998) kehilangan hasil karena serangan OPT pada bawang merah berkisar 20 -100%.

Salah satu penyakit yang sering dijumpai pada tanaman bawang merah adalah penyakit moler, penyakit ini disebabkan oleh organisme pengganggu jenis cendawan yaitu Fusarium oxysporum. Penyakit ini sering menyerang bawang merah terutama pada musim hujan, saat curah hujan tinggi dan kondisi lingkungan yang lembab. Gejala penyakit moler pada bawang merah di antaranya tanaman layu mendadak, warna daun berubah menguning, mengkerut, terkulai, melintir, dan melengkung (moler), akar tanaman membusuk dan tanaman mudah tercabut, umbi membusuk, dan akhirnya mati.

Fusarium oxysporum ini adalah salah satu cendawan yang sulit dikendalikan, jika tanaman sudah terinfeksi, sangat kecil kemungkinan untuk bisa diselamatkan. Pengendalian dan pencegahan perlu dilakukan sejak awal untuk memperkecil peluang terjangkitnya penyakit moler. Beberapa tips berikut jika diterapkan dapat memperkecil resiko tanaman bawang merah terjangkit penyakit moler:

  1. Mengolah lahan dengan baik dan benar

Mengolah lahan dengan baik dan benar serta membersihkan sisa-sisa tanaman sebelumnya dapat menghilangkan atau bahakan mematikan spora dari fusarium yang masih mengendap di dalam tanah. Tanah yang dikelola dengan baik akan menyebabkan aerase dan drainase tanah manjadi baik, sehingga pathogen tidak berkesempatan untuk tumbuh atau berkembang biak.

  1. Rotasi tanaman

Rotasi atau pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan merupakan inang Fusarium oxysporum dapat menghambat terjadinya serangan penyakit moler. Ini dilakukan untuk memutus siklus hidup Fusarium.

  1. Memperbaiki sistem irigasi

Saluran irigasi dapat menjadi media penyebaran penyakit pada tanaman. Pembuatan saluran irigasi yang kurang baik, pemberian air yang tidak teratur, dan drainase yang buruk akan menimbulkan genangan air serta kelembaban lingkungan yang tinggi. Kondisi seperti ini adalah lingkungan yang disenangi oleh banyak pathogen. Selain itu irigasi yang telah tercemar pathogen akan menjadi penyebab meluasnya serangan penyakit pada tanaman.

  1. Pemilihan bibit yang sehat

Bibit yang akan dijadikan sebagai bahan tanam harus sehat dan bebas dari Fusarium. Bibit yang sudah terjangkit Fusarium akan berpotensi terserang moler lebih awal. Sebagai perbandingan moler biasanya menyerangg tanaman bawang merah saat umur tanaman 35 – 45 hari setelah tanam. Sedangkan jika bibit yang digunakan sebagai bahan tanam adalah bibit yang sudah terinfeksi Fusarium maka gejala penyakit akan cenderung lebih cepat tampak yaitu pada umur 5 – 10 hari setelah tanam

  1. Menyediakan iklim yang cocok untuk bawang merah

Beberapa faktor iklim seperti suhu, kelembaban, cahaya, dan curah hujan memiliki pengaruh penting terhadap penyebaran cendawan termasuk Fusarium. Hampir sebagian besar penyakit tanaman terutama yang disebabkan oleh cendawan akan berkembang dengan pesat pada kelembaban tinggi.

  1. Sanitasi alat dan lahan budidaya

Alat pertanian yang pernah digunakan untuk menangani tanaman yang terserang moler dapat menjadi media penularan penyakit jika tidak dilakukan pembersihan. Sementara itu, tumbuhan pengganggu atau gulma yang ada pada lahan budidaya juga bisa menjadi inang dan media berkembangbiaknya penyakit, dengan sanitasi yang baik berarti semakin memperkecil kesempatan pathogen untuk memanfaatkan lingkungan tersebut.

  1. Pengendalian dengan agen hayati

Pada dasarnya cendawan seperti Fusarium telah ada di dalam tanah, namun populasinya tidak terlalu tinggi. Untuk menghambat perkembangan Fusarium dapat digunakan agen hayati sebagai musuh alami. Agen hayati yang biasa digunakan untuk mengendalikan Fusarium adalah Trichoderma. Pembudidaya bisa menggunakan biofungisida Tricogreen yang mengandung Trichoderma yang sangat efektif dalam mengendalikan jamur patogen menular. Tricogreen ini berbentuk bubuk putih kehijauan sehingga mudah diapliaksikan. Biofungisida ini juga ramah lingkungan sehingga aman bagi manusia, hewan, dan lingkungan (Roidah Afifah, Universitas Brawijaya).

Print Friendly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *