BERTANI DI PASIR PANTAI, MUNGKINKAH?

September 2, 2015 - Artikel

Mustahil! Mungkin itu kata yang langsung ada di benak kita begitu mendengar bertani di pasir pantai. Namun tak ada kata mustahil jika ada usaha yang kuat. Hal ini dialami PT Indmira, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang lingkungan dan pertanian, ketika mengolah lahan pasir pantai di kawasan Pantai Pandansimo, Yogyakarta sejak tahun 1999. Awalnya Indmira dianggap “gila” karena bertani di lahan pasir, sesuatu yang sangat mustahil saat itu. Namun, semangat ingin tahu Indmira menjadikan Indmira tekun meneliti teknologi dan produk organik untuk bertani dilahan pasir.

Lahan pasir pantai PT Indmira hanya berjarak sekitar 50 meter dari bibir pantai. Lahan seluas 2,8 ha itu memiliki karakteristik pasir yang miskin unsur hara (kurang dari 1%), kandungan garam yang tinggi, dan memiliki struktur yang langsung hilang bila disiram menjadikan air tidak bisa diserap oleh tanaman, merupakan tantangan yang dihadapi PT Indmira. Berbagai upaya dilakukan, termasuk memanfaatkan pupuk organik hasil penelitian PT Indmira untuk perbaikan ekosistem pesisir pantai. Perbaikan sifat fisik dan kimia tanah pasir dengan menggunakan formula yang diproduksi oleh PT Indmira hanya membutuhkan waktu sekitar 2 minggu dengan jalan pasir dilebamkan.

Kini, hampir semua jenis tanaman berhasil dibudidayakan di lahan pasir pantai PT Indmira, mulai dari tanaman hortikultura, tanaman buah tahunan, tanaman perkebunan, dan wind barrier. Tanaman memiliki pertumbuhan yang baik, mampu berbuah dengan lebat, dan dapat tumbuh subur seperti tanaman-tanaman yang ditanam di lahan pertanian biasa pada umumnya. Jenis tanaman hortikultura yang dibudidayakan adalah padi, jagung, gandum, kacang tanah, kedelai, cabai, tomat, melon, bawang merah, bahkan sayuran seperti sawi dan kacang panjang juga berhasil dibudidayakan. Dalam setiap panennya mampu menghasilkan padi rojolele mencapai 6-8 ton/ha, Melon 46 ton/ha, kedelai 2,16 ton/ha, dan bawang merah 10-15 ton/ha. Jenis tanaman buah tahunan, meliputi kelengkeng, sawo, pisang, jeruk lemon, dan jeruk sunkist. Sawo dan kelengkeng yang tumbuh setinggi satu sampai dua meter sudah mampu berbuah dengan lebat. Accacia mangium, Gliricidia sepium, Casuarina equisetifolia, Dan akar wangi rumput (Akar Wangi).

Bahkan kacang tanah produksi Indmira mampu menghasilkan hingga 5 ton/ha.“Jumlah ini melebihi jumlah panen di lahan konvensional yang hanya 1,2 ton/ha” ungkap Bintari Rochim, Direktur R & & D Indmira. ”Bahkan kacang yang dibudidayakan di lahan pasir cenderung lebih bersih karena tidak ada tanah yang menempel, terlebih tekstur pasir yang berbutir sehingga kacang sangat mudah dibersihkan”, tambah perempuan murah senyum ini.

Tak seperti teknologi lainnya yang menambahkan banyak bahan organik ke lahan pasir sebelum ditanami. Indmira hanya menggunakaan F4, SNN, SAN Tanaman, dan Pembenah Tanah yang merupakan pupuk organik hasil penelitian PT Indmira. 2 minggu setelah aplikasi lahan tersebut telah siap ditanami. Teknologi ini merupakan satu-satunya di dunia, menanami lahan pasir tanpa penambahan material (tanah, pupuk, kompos, pupuk kandang) ke lahan.

Suhu pesisir pantai yang panas, lingkungan ekstrem, dan cekaman air yang awalnya sebagai tantangan juga memiliki sisi positif dimana menyebabkan fase vegetatif dan generatif berlangsung lebih cepat, sehingga waktu panen di pesisir Pandansimo menjadi lebih cepat. Produktivitas yang dihasilkan pun lebih banyak, hal ini tidak terlepas dari teknologi yang digunakan PT Indmira

Karena keberhasilannya, berbagai instansi pemerintah maupun swasta mulai menduplikasi dan mengadaptasi konsep ini pada lahan-lahan di tempat lain. Pertanian lahan pantai tersebut juga merupakan salah satu upaya untuk uji coba maupun uji efektivitas dari produk PT Indmira yang berupa pupuk organik dan bahan perbaikan ekosistem. Setelah dilakukan uji coba ternyata berhasil untuk diaplikasikan di lahan pasir pantai yang merupakan lahan marginal.

Hal ini menjadi angin segar untuk pengembangan pertanian pesisir Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia.

Indonesia memiliki panjang garis pantai mencapai 106.000 km dengan potensi luas lahan 1.060.000 ha, yang secara umum termasuk lahan marginal. Berjuta-juta hektar lahan marginal tersebut tersebar di sejumlah pulau, sehingga jika bisa dimanfaatkan dengan baik, tentu bisa menghidupi banyak masyarakat pesisir. Kemandirian pangan pun tak hanya angan-angan. Disamping itu, jenis pasir besi di kawasan Pandansimo ini memiliki kemiripan dengan bekas lahan yang digunakan pascatambang.

Dengan teknologi ini, kemandirian pangan bukan hanya impian lagi. Apakah kita siap untuk memulai? (Le)

Print Friendly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *