Indmira Lestarikan Tradisi Wiwitan

30 Desember 2015 - Uncategorized

Masyarakat Jawa seperti di daerah Yogyakarta mengganggap padi merupakan tanaman penghidupan bagi petani. Sebagai wujud syukur menjelang panen dengan harapan panen padi melimpah, petani di Jawa biasanya melakukan tradisi Wiwit atau Wiwitan.

Wiwit sebagai tradisi leluhur keluarga petani yang dilaksanakan menjelang panen atau di awal musim panen padi, secara etimologi wiwit artinya memulai, maksudnya memulai panen. Jadi tradisi ini bermakna mulai memotong padi sebelum panen diselenggarakan. Sejatinya wiwit bermakna ungkapan doa dan syukur atas limpahan hasil panen yang telah diberikan Tuhan. Melalui kaca mata berbeda dari sisi sosiologis dalam prosesi wiwit terdapat interaksi sosial. Wiwit merupakan simbol hubungan yang harmonis sebagai wujud interaksi sosial antara para petani, serta hubungan keselarasan antara petani pemilik lahan dengan alam yang telah menyediakan dan mencukupi kebutuhan petani padi. Hal yang sama juga bisa dilihat dalam konteks orang Jawa memaknai tradisi wiwit sebagai wujud terimakasih dan wujud syukur kepada bumi sebagai sedulur sikep dan Dewi Sri (Dewi Padi) yang telah menumbuhkan padi yang ditanam sebelum panen.

Indmira sebuah perusaahan riset di bidang pertanian, lingkungan, dan energi terbarukan, juga tak ketinggalan melakukan tardisi wiwitan sebelum memanen padi di lahan riset dan lahan produksinya. Termasuk tradisi wiwitan yang dilaksanakan Indmira kamis, 21 Mei 2015. Wiwitan yang dilakukan Indmira tak terlepas dari ucapan puji syukur pada Tuhan atas berkah yang telah diberikan serta sebagai media interaksi sosial dengan segenap pihak yang terlibat dalam proses produksi padi.

“Kami memaknai wiwitan sebagai wujud syukur atas berkah yang diberikan Tuhan, selain sebagai media interaksi sosial, juga untuk melestarikan budaya leluhur”, ungkap Bintari Rochim, Direktur Riset Indmira.

Tradisi wiwitan yang dilakukan Indmira melibatkan tim riset Indmira serta petani penggarap lahan. Suparsih, penggarap lahan Indmira di kawasan Purwodadi, Jalan Kaliurang km 18 tampak sibuk menyiapkan beberapa perlengkapan wiwitan. Siang itu Suparsih wanita 40 tahunan nampak sumringah dan mengungkapkan ia telah menyiapkan perlengkapan wiwitan sejak beberapa hari sebelumnya. Nampak tersaji sebakul besar nasi, sayur bumbu megono (campuran sayur-sayuran yang direbus dan dibumbui), telur rebus, ingkung (olahan daging ayam), jadah jenang (makanan khas terbuat dari ketan), jenang (bubur), jajan pasar, makanan kecil, dan buah–buahan. Nampak juga beberapa jenis bunga seperti mawar merah, mawar putih, kenangan (Cananga odorata), dan kanthil (Magnolia x alba).

Wiwitan yang dilakukan Indmira dimulai dengan doa bersama sebagai wujud syukur kepada Tuhan kemudian menyantap hidangan yang disediakan. Suasana kekeluargaan dan lekat dengan canda tawa hadir dalam santap bersama itu.

Panen padi di Indmira tak serta merta dilakukan setelah upacara wiwitan, panen baru bisa dilakukan Senin, 4 hari kemudian.

Nah, mengembangkan teknologi sambil tetap melestarikan tradisi leluhur siapa takut?

Print Friendly

Comments are closed.