Melawan Amnesia Collective dengan Revolusi Meja Makan

30 Desember 2015 - Uncategorized

ArtJog sebuah pagelaran seni tahunan di Yogyakarta yang menyajikan berbagai bentuk seni. ArtJog tahun ini memasuki usia ke 8- , dimana Indieguerillas ditunjuk sebagai seniman yang membuat karya spesial yang akan dipajang di halaman depan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) bersama dengan karya Yoko Ono. Salah satu karya Indieguerillas bertajuk Green Box, mencoba menyoroti menyusutnya jumlah sawah, baik di perkotaan maupun pedesaan dan pengaruhnya terhadap sikap kita terhadap alam. Keterbatasan ruang telah membuat padi dimodifikasi sedemikian rupa. Namun di sisi lain, kita terus mengonsumsi ruang tanpa memedulikan vegetasi dan ekosistem yang ada. ’ Suatu saat, tampaknya manusia harus belajar kembali untuk hidup bersama alam. Lucunya, manusia berasal dari alam, mempelajari alam, menaklukkan alam, tergantung pada alam, sekaligus terasing dari alam. Sekarang, alam yang akan dihidupinya tinggallah belantara beton tandus dan kita tercekat dengan krisis pangan yang perlahan tapi pasti.

Green Box sendiri akan bergantian diisi oleh 3 komunitas jogja yang peduli terhadap pangan dan keseimbangan alam, diantaranya Jogja Berkebun, Jejaring pangan, dan Permablitz Jogja. Jejaring pangan kemudian menggelar mini workshop dengan tajuk Revolusi Meja Makan yang mengundang secara terbuka bagi siapa saja yang ingin berdiskusi dan tukar cerita mengenai masalah pangan dan revolusi meja makan itu sendiri. Sore itu, salah satu Tim Komunikasi Indmira mengikuti acara diskusi tersebut. Hadir pula teman-teman dari komunitas Jogja Berkebun, Sahabat Lingkungan Jogja, Persma Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM), dan tentu saja teman- teman dari Ocean of Life Indonesia (OLI) yang juga menjadi pembicara dalam mini workshop tersebut.

Dalam Green Box sendiri, ada sebuah tulisan Amnesia Collective yaitu lupa massal. Lupa massal disini, diartikan sebagai generasi muda yang lupa akan sejarah pertanian mereka sendiri. Yang lama kelamaan tergerus waktu dan teknologi serta perkembangan zaman dimana tidak banyak yang kemudian peduli terhadap lingkungan sekitar yang semakin memangkas ruang terbuka untuk bercocok tanam. Bahkan banyak generasi muda kita yang mungkin tak bisa membedakan mana gabah, padi, dan bagaimana pengalaman menanam padi secara langsung. Hal ini menjadi hal yang sangat menarik dimana Amnesia Collectve ini berlanjut sampai di meja makan. Tak lagi mempedulikan dari mana makanan yang setiap hari mereka konsumsi berasal. Entah dari daerah di ujung sana atau disekitar mereka. Pun dengan apa yang mereka makan, bagaimana itu di tanam, kandungan apa saja yang kemudian ada dalam makanan tersebut, berapa lama makanan tersebut bisa sampai di meja makan mereka, berapa lama waktu, biaya, dan gizi yang terbuang selama di perjalanan, banyak yang tidak peduli lagi terhadap hal ini.

Jejaring pangan sebagai komunitas yang kemudian peduli terhadap hal ini, mulai melakukan kegiatan kampanye untuk kembali mempopulerkan makan makanan lokal dan memetakan produksi pangan lokal di daerah masing-masing. Jejaring pangan juga aktif menggelar diskusi-diskusi untuk menyoroti masalah pangan dan menggandeng komunitas-komunitas yang juga peduli pada masalah serupa. (An)

Print Friendly

Comments are closed.