PRESS RELEASE – Menilik Pertanian di Lahan Pasir Pantai

29 Desember 2014 - Uncategorized

Yogyakarta - Cuaca mendung sore itu tidak menyurutkan antusias teman-teman media untuk berkeliling melihat-lihat seluruh lokasi. Lahan pertanian pasir pantai tersebut adalah lahan penelitian dan pengembangan pasir pantai milik PT Indmira Yogyakarta. PT Indmira adalah perusahaan produsen pupuk organik, nutrisi hewan ternak, dan bahan-bahan perbaikan ekosistem. PT Indmira selalu berusaha untuk membuat inovasi dan terobosan baru demi perbaikan lingkungan melalui program Research & Development yang berkelanjutan, salah satunya adalah pengembangan pertanian di lahan pasir pantai.

“‚ÄúDulu Indmira sempat dikatakan gila, karena dianggap mustahil bisa berhasil membuat pertanian di lahan pasir pantai, tapi inilah sekarang hasilnya, kami berhasil membuktikan bahwa lahan pasir pantai yang tidak pernah terpikirkan oleh orang untuk budidaya beraneka ragam tanaman ternyata juga bisa dikembangkan untuk pertanian,” kata Aryo Wiryawan, Direktur Utama PT Indmira.

Penelitian di lahan pasir pantai sudah dilakukan sejak tahun 1999. Pertanian lahan pantai tersebut juga merupakan salah satu upaya untuk uji coba maupun uji efektivitas dari produk PT Indmira yang berupa pupuk organik dan bahan perbaikan ekosistem. Setelah dilakukan uji coba ternyata berhasil untuk diaplikasikan di lahan pasir pantai yang merupakan lahan marginal.

Lahan pasir pantai PT Indmira hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari bibir pantai. Karakteristik pasir yang miskin unsur hara, memiliki kandungan garam yang tinggi karena telah terendam garam selama jutaan tahun, dan memiliki struktur yang langsung hilang apabila disiram air yang menjadikan air tidak bisa diserap oleh tanaman merupakan tantangan yang harus dipecahkani oleh PT Indmira. Implementasi pengembangan teknologi pertanian lahan pantai dimulai dengan rekayasa iklim mikro serta perbaikan struktur fisika dan kimia tanah. Kemudian setelah lahan kondusif, dilakukan budidaya berbagai komoditas pertanian.

Cuaca yang sangat panas, angin laut yang kencang, dan seringnya terjadi badai garam juga menjadi kendala yang harus dihadapi. Kendala tersebut diakali dengan penanaman jenis tanaman wind barrier. Tanaman wind barrier berfungsi sebagai pelindung tanaman yang dibudidayakan. Dengan adanya tanaman wind barrier, angin laut yang membawa uap air yang mengandung garam tidak sepenuhnya mengenai tanaman budidaya dan juga dapat melindungi tanaman dari panas matahari yang menyengat agar tidak mengenai secara langsung.

Hampir semua jenis tanaman berhasil dibudidayakan di lahan pasir pantai PT indmira, mulai dari tanaman hortikultura, tanaman buah tahunan, tanaman perkebunan, dan wind barrier. Tanaman memiliki pertumbuhan yang baik, mampu berbuah dengan lebat, dan dapat tumbuh subur seperti tanaman-tanaman yang ditanam di lahan pertanian biasa pada umumnya. Jenis tanaman hortikultura yang dibudidayakan adalah padi, jagung, gandum, kacang tanah, kedelai, cabai, tomat, melon, bawang merah, bahkan sayuran seperti sawi dan kacang panjang juga berhasil dibudidayakan. Dalam setiap panennya mampu menghasilkan padi rojolele mencapai 6-8 ton/ha, Melon 46 ton/ha, kedelai 2,16 ton/ha, dan bawang merah 10-15 ton/ha. Jenis tanaman buah tahunan, meliputi kelengkeng, sawo, pisang, jeruk lemon, dan jeruk sunkist. Bahkan, untuk sawo dan kelengkeng yang tumbuh setinggi satu sampai dua meter sudah mampu berbuah dengan lebat. Jenis tanaman perkebunan seperti jati, kelapa sawit, kurma, dan jambu mete dapat berkembang dengan baik pula. Dan yang terakhir, jenis tanaman wind barrier yang dibudidayakan adalah cemara laut, akar wangi, akasia, dan kleresede.

Selain pertanian, PT Indmira juga mengembangkan tambak di lahan pasir pantai untuk budidaya udang. Udang dipilih karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Jenis udang yang dibudidayakan adalah Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei). PT Indmira memilih Udang Vannamei karena varietas ini memiliki beberapa keunggulan, yakni tingkat survival rate-nya tergolong tinggi, lebih tahan penyakit, hemat pakan, lebih tahan terhadap gangguan lingkungan dan pertumbuhan lebih cepat sehingga waktu pemeliharaan yang lebih pendek, sekitar 90 s/d 100 hari. Biasanya dalam tambak seluas 1000 m2 hanya diisi sejumlah 150.000 ekor udang. Tetapi PT Indmira mencoba melakukan percobaan dengan mengisi sebanyak 250.000 ekor udang. Metode ini dilakukan dengan sistem dua kali panen. Pada masa panen pertama akan dipanen sebanyak 150.000 ekor udang, dan masa panen kedua akan dipanen sisanya. Dari hasil panen kedua akan menghasilkan udang dengan ukuran yang lebih besar. Pada kolam tambak juga ditambahkan kincir air yang berfungsi untuk memberikan tambahan oksigen bagi udang-udang. Untuk budidaya tambak juga perlu diperhatikan tingkat salinitas air. Salinitas air yang ada di tambak PT Indmira berkisar 10-15 yang tergolong ke dalam jenis air payau.

Hasil panen udang pertama PT Indmira pada 23 Januari 2014 lalu mencapai 2,2 ton dari kolam yang luasnya mencapai 1000 m2 di lahan pasir pada pantai Pandansimo. Hasil panen ini menunjukkan keberhasilan efisiensi pakan udang dengan Food Conversion Ratio (FCR). Padahal, standar umum pemberian pakan sebanyak 1,8 ton sampai dengan 2,5 ton hanya menghasilkan satu ton udang. PT Indmira berhasil melakukan efisiensi pemberian pakan sebanyak 1,1 ton untuk menghasilkan satu ton udang. PT Indmira juga melakukan subtitusi pemberian pakan lain dengan mikro-organisme untuk udang. Panen udang ini menjadi percontohan bagi kawasan sekitar pantai Pandansimo bahwa tambak di lahan pasir dapat memproduksi udang dengan hasil yang maksimal.

Keberhasilan pengembangan budidaya tanaman di lahan pasir pantai ini berawal dari keprihatinan PT Indmira akan semakin berkurangnya lahan pertanian di Indonesia akibat aktivitas pembangunan pemukiman dan gedung-gedung. Untuk itu PT Indmira mencoba mencari alternatif dengan mencari lahan yang tidak terpikirkan oleh orang untuk dimanfaatkan dalam kegiatan apapun. Dipilihlah lahan pasir pantai karena lahan yang banyak menghampar luas di Indonesia ini hanya dibiarkan begitu saja dan jarang untuk dimanfaatkan sepenuhnya untuk aktivitas masyarakat, terlebih untuk bidang pertanian. Selain pertanian di lahan pasir pantai, inovasi baru yang sedang ingin dikembangkan oleh PT Indmira adalah pertanian di gurun pasir. Gurun pasir di dunia ini sangat luas, namun tidak pernah terpikirkan oleh siapapun untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Sehingga, negara-negara yang berada di daerah gurun pasir harus mengimpor bahan makanan dari luar negaranya. Untuk itu PT Indmira mencoba membuat inovasi untuk menciptakan solusi agar bisa mengembangkan pertanian di gurun pasir.

Dengan adanya pertanian di lahan pasir pantai telah mampu menghijaukan daerah di sekitar pantai. Daerah pantai yang biasa dikenal dengan daerah yang gersang dan sangat panas karena terik matahari yang menyengat, berubah menjadi daerah yang lebih sejuk dan teduh. Dampak positif lain dari pertanian lahan pasir pantai juga sudah terlihat dengan adanya pembentukan ekosistem baru di kawasan pantai. Adanya hewan penyubur lahan seperti kutu, cacing, ulat, dan aneka ragam satwa lainnya, seperti berbagai jenis burung, serangga, reptil, juga menjadi penghuni ekosistem baru di kawasan pantai ini.

Tanam lahan di pasir pantai PT Indmira diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengembangkan potensi pertanian dari lahan yang dapat dibudidayakan di pasir, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat pesisir umumnya nelayan.

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:

Charisma Rahma Dinasih
Hubungan masyarakat
PT Indmira
Telepon: 085643568188
E-mail: charismarahma@yahoo.dengan

Print Friendly

Comments are closed.