Reklamasi Lahan Bekas Tambang: Teknologi Indmira Tanpa Topsoil

10 Desember 2015 - Uncategorized

Reklamasi lahan bekas tambang memiliki landasan hukum Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Pertambangan. Pada Pasal 30 dari Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa apabila selesai melakukan penambangan bahan galian pada suatu tempat pekerjaan, pemegang Kuasa Penambangan (KP) diwajibkan mengembalikan tanah sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan bahaya bagi masyarakat sekitarnya.

Sayangnya reklamasi lahan bekas tambang di Indonesia sejauh ini belum benar-benar aman untuk lingkungan. Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) memperkirakan, sekitar 70 persen kerusakan lingkungan Indonesia karena operasi pertambangan. Sekitar 3,97 juta hektar kawasan lindung terancam pertambangan, termasuk keragaman hayatinya. Tak hanya itu, daerah aliran sungai (DAS) rusak parah meningkat dalam 10 tahun terakhir. Dari sekitar 4.000 DAS di Indonesia, 108 rusak parah.

Kondisi ini tentu sangat miris ditengah gencarnya semangat untuk lebih bersahabat dengan alam. Padahal sudah ada aturan bagi pengusaha tambang untuk memperhatikan aspek lingkungan di sekitar pertambangan, dimana upaya perbaikan lahan bekas tambang dengan reklamasi lahan. Menurut UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya.

Upaya pemulihan lahan bekas tambang yang umum dilakukan selama ini dengan menambahkan topsoil (tanah, pupuk kandang/humus, dan material kaya unsur hara lainnya) ke lahan bekas tambang. Penambahan pupuk bisa mencapai 20 ton/ha, tanah mencapai ketebalan 30cm sepanjang lahan bekas tambang. Jumlah ini tentu sangat banyak, mengingat lahan tambang bisa mencapai ratusan ribu hektar, lokasi tambang yang biasanya jauh tentu membutuhkan pengangkutan terhadap topsoil. Terlebih kini jumlah topsoil semakin terbatas. Dengan terbatasnya persediaan topsoil, kegiatan reklamasi lahan bekas tambang pada suatu perusahaan dapat terhambat karena tanpa topsoil tanaman tidak akan dapat tumbuh dan berkembang.

PT Indmira, sebagai perusahaan berbasis penelitian di bidang lingkungan dan pertanian, tak ketinggalan untuk mencari solusi perbaikan ekosistem di bekas lahan tambang. Produk biostimulan yang berbahan alami pun dihasilkan yang mampu memperbaiki ekosistem di beberapa kawasan bekas tambang. Biostimulan yang diproduksi oleh PT Indmira adalah hasil dari fermentasi bahan organik serta bakteri yang dipilih sebagai isolat untuk menurunkan kadar racun. Biostimulan mengandung bahan-bahan alami yang aman bagi lingkungan. Teknologi ini memanfaatkan SAN RBT, SAN PT dan SAN Tanaman.

SAN RBT berfungsi untuk mengurai senyawa kompleks dan mempercepat pelapukan bahan pada lahan. SAN RBT mengandung berbagai mikroba yang berperan dalam pelapukan bahan organik, bakteri penambat N, pelarut posfat, unsur makro dan mikro, serta asam-asam organik. SAN PT berfungsi sebagai wadah untuk nutrisi tanah dan tanaman, memperbaiki media tanam, serta untuk menetralkan pH tanah. SAN Tanaman merupakan pupuk organik untuk mencukupi kebutuhan nutrisi tanaman (dibuat dari unsur makro, mikro, Zat Perangsang Tumbuh dan asam organik), serta memperbaiki struktur tanah (fisik, kimia, dan biologi tanah).

Jumlah yang diaplikasikan pun relatif sedikit. Hanya 125 kg/ha SAN PT, 25 kg/ha SAN RBT, serta 12,5kg/ha SAN Tanaman. Jika aplikasi per titik tanam, bisa dengan dosis per tititk tanam SAN RBT 40 gr, SAN PT 200gr, SAN Tanaman 20gr. Waktu yang dibutuhkan pun hanya 2 minggu setelah aplikasi dan lahan sudah siap ditanami.

Salah satu perusahaan yang bekerjasama dalam reklamasi bekas lahan tambang adalah PT Sanga Coal Indonesia yang berlokasi di Kalimantan Timur. Kondisi lahan dengan keasaman tinggi, nutrisi organik rendah, kelembaban tinggi, curah hujan rendah, serta angin yang kencang menjadi tantangan PT Indmira di lapangan. Teknologi Biostimulan pun diterapkan. Diawali dengan penyiraman lahan dengan biostimulan untuk memperbaiki tekstur dan struktur tanah lalu didiamkan selama ± 2 minggu. Perlakuan yang sama dilakukan kembali dan didiamkan selama ± 1 bulan untuk mengoptimalkan proses kerja biostimulant.

Setelah rehabilitasi lahan, kemudian dilakukan revegetasi. Revegetasi dilakukan dari penanaman dan menabur Legume Cover Crop (LCC), pemupukan dilakukan tiap 3 bulan, disertai pemantauan dan pemeliharaan setiap hari. Penggunaan teknologi biostimulant di lokasi PT Sanga Coal Indonesia menunjukkan tingkat keberhasilan lebih dari 90%, dan dianggap sangat efektif dan efisien baik dari segi waktu dan biaya. Biaya reklamasi yang lebih hemat sebanyak 40%, tingkat keberhasilan yang tinggi, waktu yang relatif singkat, dan penerapan teknologi reklamasi yang ramah lingkungan juga menjadi keunggulan dari teknologi biostimulasi. Dalam waktu kurang lebih dua bulan saja, lahan bekas tambang yang sudah diterapi siap untuk ditanami. Bahkan, untuk lahan bekas tambang yang kerusakannya mencapai hingga ambang batas terparah pun sudah mampu ditanami dalam waktu maksimal tiga bulan saja.

Teknologi yang diterapkan Indmira termasuk yang pertama di dunia, dimana mereklamasi lahan bekas tambang tanpa penambahan topsoil. Teknologi ini telah berhasil diterapkan di PT Sanga Coal Indonesia, PT Pinang Coal Indonesia dan PT Mandiri Inti Perkasa. Teknologi ini menjadi angin segara dalam reklamasi lahan bekas tambang karena bisa menghemat biaya hingga 40% dan dalam waktu yang lebih singkat. (Le)

Print Friendly

Comments are closed.