Memahami Kebakaran dari Fenomena Alam

October 3, 2019 - Article

Sejak awal September lalu, berita kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti lalulalang di media massa. Kebakaran hutan di Kalimatan dan Sumatera 2019 menjadi salah satu karhutla yang cukup besar setalah karhutla tahun 2015 dan tahun 1997. Pada kasus karhutla tahun ini, pihak Kepolisian dan Kementerian telah menetapkan beberapa tersangka dari perorangan maupun perusahaan.

Namun tidaklah cukup hanya menangkap tersangka, ada baiknya memahami karakter hutan Indonesia dan mencari solusinya.

Kali ini kita akan lebih memahami keterkaitan fenomena alam dengan kebakaran yang terjadi. Berdasar data BMKG 2019, puncak musim kemarau di Indonesia terjadi di bulan September dan Oktober. Musim kering ini sangat mengancam hutan dan lahan gambut dengan karakter tanahnya terdiri dari sisa-sisa vegetasi pohon dan mahluk hidup yang rawan terbakar. Tanpa adanya aktifitas manusiapun hutan gambut berpotensi memiliki beberapa titik hot spot yang dapat menyebar. Ranting dan daun yang kering saling bergesekan dapat memicu timbulnya percikan api. Angin dan kayu-kayu kering membantu api  semakin besar dan menyebar ke berbagai arah. Yang perlu dikhawatirkan adalah kebakaran tiap tahun semakin parah oleh aktifitas manusia dan didukung fenomena alam yang terjadi.

Musim kering ini sangat mengancam hutan dan lahan gambut dengan karakter tanahnya terdiri dari sisa-sisa vegetasi pohon dan mahluk hidup yang rawan terbakar

Berdasarkan Ocean Climate Science, terdapat hubungan antara letak geografis dan kebakaran hutan di Indonesia yaitu pada fenomena alamnya yang bernama Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudera Hindia dan El Nino Southern Oscillation (ENSO) di Samudera Pasifik. Secara geografis, Indonesia berada di antara Samudera Hindia dan Pasifik. Iklim di Indonesia dipengaruhi oleh fenomena alam dari dua samudera tersebut. Angin yang berhembus dari dan menuju samudera tersebut mempengaruhi musim di Indonesia. Angin muson barat yang berhembus dari Asia menuju Australia membawa musim hujan dan Angin muson timur berhembus dari Australian menuju Asia membawa musim kemarau.

Data dari index anomali suhu permukaan laut, Samudera Hindia dan Pasific memiliki nilai IOD positif dan ENSO yang cukup lemah. Index IOD positif menunjukkan bahwa suhu muka laut di sisi timur Hindia (pesisir Sumatera dan Jawa) lebih dingin dari biasanya. Suhu muka laut yang lebih dingin dari biasanya ini menyebabkan pembentukan awan di wilayah Indonesia bagian barat menjadi tidak signifikan atau terhambat sehingga potensi hujan juga semakin kecil, pembentukan hujannya lemah dan musim kemarau Indonesia akan lebih lama.

Suhu muka laut yang lebih dingin dari biasanya ini menyebabkan pembentukan awan di wilayah Indonesia bagian barat menjadi tidak signifikan atau terhambat sehingga potensi hujan juga semakin kecil, pembentukan hujannya lemah dan musim kemarau Indonesia akan lebih lama.

Selain index IOD yang positif, dilihat dari real time Outgoing Longwave Radiation (radiasi matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi ke angkasa) di Sumatera dan Kalimantan bernilai positif. Arti nilai positif ini menunjukkan tidak ada awan di daerah tersebut. Tidak ada awan artinya tidak ada hujan.

Singkatnya, index perbedaan suhu permukaan laut yang positif (dingin) akan menyebabkan awan susah terbentuk sehingga tidak tidak terjadi hujan.

Bila tidak ada hujan maka kebakaran akan semakin meluas dan menghabiskan ribuan hektar hutan gambut di Kalimantan dan Sumatera. Bencana kekeringan ini dapat semakin buruk seiring aktifitas manusia yang bersifat destruktif dan fenomena pemasan global. Dari kesadaran ini, perlu adanya gerakan untuk mengatasi permasalahan ini, salah satunya dengan menghidupkan hutan kembali.

Peran terkecil yang dapat kita ambil adalah dengan turut menyadarkan orang di sekitar bahwa hutan perlu diselamatkan. Namun jika kamu bisa mengambil peran lebih dari itu kenapa tidak ? Yuk berikan aksimu untuk menghidupkan kembali hutan

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *