Gotong Royong Menumbuhkan Hutan, Yuk Berkontribusi!

Hutan memegang peranan penting dalam menjamin kehidupan manusia di bumi. Diperkirakan sekitar 1/3 dari populasi global menggantungkan hidupnya pada hutan baik dari segi ekonomi, sosial maupun budaya. Hutan memberikan pemenuhan kebutuhan dari barang dan jasa yang dihasilkan. Keberadaan hutan memberikan dukungan keberlanjutan hidup dengan penyediaan kebutuhan pangan dan air bersih. Disamping itu, hutan mampu menjadi jantung dalam climate action dengan jasa penyerapan karbon dan penyediaan oksigen.

Keanekaragaman atau biodiversitas yang tumbuh dan berkembang didalam hutan seperti tumbuhan, binatang, mikroorganisme, serta seluruh interaksi kompleks memberikan nilai yang sangat berharga bagi kehidupan manusia. Kekayaan alam ini mampu menopang berbagai aspek kebutuhan hidup dari energi, pangan, kesehatan hingga ketersediaan air. Berbagai manfaat yang dapat diberikan hutan menjadi sebuah alasan pentingnya eksistensi hutan dan dorongan gotong royong untuk keberlanjutan hutan. Sehingga perlu adanya simbiosis mutualisme antara alam dengan manusia dengan mengembalikan apa yang diambil dari alam sebagai bentuk kepedulian manusia.

Kemampuan hutan dalam menjaga kompleksitas ekosistem alam semakin terancam oleh aktivitas manusia di kawasan hutan. Aktivitas tersebut berorientasi pada aspek ekonomi manusia yang mengalihfungsikan hutan ke berbagai sektor. Meskipun aktivitas tersebut juga menguntungkan dalam pemenuhan kebutuhan manusia dari segi kebutuhan pangan, sandang, hingga energi akan tetapi pada sisi lainnya juga akan memberikan konsekuensi. Kemampuan hutan dalam mengatasi perubahan iklim akan menurun dengan ketidakmampuannya untuk menyerap karbon kembali. Apabila hal tersebut terjadi maka akan menimbulkan kerusakan lingkungan yang semakin parah.

Salah satu bencana yang terjadi di Indonesia akibat kerusakan lingkungan tersebut ialah banjir yang menerjang wilayah Kalimantan Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Dikutip melalui Kompas Online, banjir semalam dua pekan dipicu oleh faktor kerusakan alam di Kalimantan akibat degradasi hutan di daerah tangkapan air. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dimiliki Provinsi tersebut yakni DAS Barito dan DAS Maluka menurun. Hal tersebut diakibatkan tingkat deforestasi yang kian tahun meningkat. Sepanjang tahun 2001-2019, area tutupan hutan di wilayah tersebut berkurang sekitar 304.225 hektar 

Gagal panen juga menjadi bencana akibat hilangnya hutan. Hutan yang hilang meningkatkan suhu bumi dan menimbulkan bencana panas di beberapa wilayah. Dikutip dari Deutsch Well bahwa Bangladesh dilanda gelompang panas dan tingkat kelembaban yang renah sehingga menghancurkan hasil panen petani. Data menyebutkan terdapat 68.000 Ha sawah di lumbung padi Bangladesh hancur akibat gelombang panas menyapu Bangladesh selama dua hari berturut-turut.

Melihat kondisi yang semakin terpuruk, organisasi global telah mulai melakukan tindakan dari berbagai program pengurangan emisi karbon seperti