Melihat Hasil Reklamasi Bekas Tambang Pasir Kuarsa di Pulau Bintan

Pulau Bintan merupakan salah satu pulau yang terletak dalam wilayah provinsi Kepulauan Riau. Pulau dengan daratan yang kaya akan sumber daya mineral dan energi ini menarik bagi pelaku bisnis pertambangan.

PT Tri Panorama Setia sebagai salah satu perusahaan tambang pasir kuarsa yang melakukan eksplorasi tambang di Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, menggandeng Agricola Bara Mineral Nusantara untuk menerapkan Teknologi Indmira dalam revegetasi lahan pasca tambang.

Mengacu pada konsep sustainable mining, lahan-lahan yang digunakan untuk areal penambangan harus memenuhi konsep keberlanjutan baik dari segi lingkungan, ekonomi, dan masyarakat. Salah satu langkah menerapkan sustainable mining ini adalah melakukan rehabilitasi dan revegetasi pada lahan bekas penambangan tambang.

Berdasarkan hasil survey lapangan tahun 2017 lalu, kondisi lahan tergolong berat khususnya lahan bekas pengendapan tailing. Kondisi lahan pasca tambang pasir kuarsa ini memiliki karakter agregat tanah yang tidak mantap dan tidak adanya tanah pucuk (top soil), berbutir sangat halus sehingga sulit ditembus air dan sangat keras jika dalam kondisi kering, serta dengan Ph 3-4. Kondisi pH tanah yang terlalu asam menyebabkan tanah tidak memenuhi kriteria syarat tumbuh tanaman.

Indmira memberikan solusi rehabilitasi pada lahan bekas tambang pasir kuarsa ini dengan sistem bioremediasi. Bioremediasi dilakukan dengan mengaplikasian rangkaian produk biostimulan yang merupakan bahan (senyawa organik) untuk menstimulasi pertumbuhan mikroba dalam tanah maupun air yang telah terkontaminasi polutan. Mikroba membantu proses degradasi bahan polutan dalam tanah sehingga daya dukung tanah meningkat untuk pertumbuhan tanaman.

Setelah itu, dilakukan penanaman Legum Cover Crop (LCC) untuk meningkatkan vegetasi lahan serta memacu peningkatan kesuburan tanah di lokasi bekas tambang tersebut.
Disusul dengan penanaman vegetasi pohon sengon sebagai tanaman utama. Pohon sengon laut dipilih karena memiliki kemampuan tumbuh yang cepat pada lahan marginal.

Setelah empat tahun pasca revegetasi, tim kembali meninjau hasil revegetasi di Bintan.

Pohon sengon yang berumur 4 tahun tumbuh subur dengan tinggi rata-rata 5-7 meter dan diameter batang 10-15 cm. Didukung dengan vegetasi LCC yang tumbuh subur di bawah pepohonan.
Dengan kembalinya kesuburan dan meningkatnya vegetasi yang hidup di lahan tersebut, secara perlahan akan mampu memperbaiki ekosistem dan menarik kembali flora dan fauna untuk hidup di daerah tersebut.

Pada kondisi lingkungan yang telah membaik maka faktor lain seperti sosial maupun ekonomi turut meningkat. Oleh karena itu, adanya proyek rehabilitasi dan reklamasi ini juga memerlukan dukungan dari masyarakat untuk menjaga hasil revegetasi ini.