Mengenal Tanaman Revegetasi & Reklamasi Tambang

Aktivitas eksplorasi tambang di berbagai daerah di Indonesia masih aktif berjalan. Selain memberikan manfaat sosial dan ekonomi dari hasil tambangnya, di balik itu juga memberikan dampak terhadap kelestarian lingkungan dan ekosistem sekitar. Oleh karena itu, perencanaan reklamasi lahan bekas tambang perlu digiatkan di samping aktivitas pertambangan yang terus berjalan.

Dalam kegiatan reklamasi tambang terdapat kegiatan yang krusial salah satunya adalah revegetasi. Searah dengan tujuannya untuk memuliakan kembali kesuburan lahan pasca tambang, kegiatan revegetasi lahan ditujukan untuk memulihkan ekosistem lingkungan seperti sedia kala.

Kegiatan revegetasi lahan akan menumbuhkan tanaman yang akan menjadi cikal bakal terbentuknya ekosistem hutan. Dalam mencapai keberhasilan revegetasi pun terdapat faktor pendukung yang harus diperhatikan yaitu jenis tanaman yang mengacu pada rancang teknis pelaksanaan reklamasi tambang. Memperhatikan jenis tanaman yang akan ditumbuhkan pada lahan bekas tambang menjadi faktor terpenting dalam keberhasilan revegetasi. Kita ketahui bahwa lahan bekas tambang memiliki tingkat kesuburan yang rendah dan polutan yang cukup tinggi.

Keberhasilan dalam pengembalian ekosistem lahan bekas tambang juga dipengaruhi oleh penyesuaian tanaman revegetasi dan masa penanamannya. Pemilihan jenis tanaman harus disesuaikan dengan lokasi lahan berada dan diusahakan untuk memilih jenis tanaman lokal. Meskipun pada umumnya lahan tambang yang dipilih berada di lokasi kawasan hutan sehingga pemilihan tanaman revegetasi kehutanan dapat menjadi pilihan yang tepat. Namun, juga perlu diperhatikan jenis tanaman serta waktu penanaman yang tepat untuk jenis tanaman tersebut. Terdapat 3 jenis tanaman yang dapat ditanam secara bertahap pada lahan bekas tambang yaitu tanaman cover crops, tanaman pokok atau fast growing, dan tanaman sisipan

Tanaman Cover Crop
Dalam proses revegetasi lahan pasca tambang, salah satu proses yang perlu dilakukan adalah melakukan penutupan lahan dengan Legum Crop Cover. Tanaman penutup lahan atau Legume Crop Cover (LCC) merupakan teknik yang memanfaatkan tanaman khusus yang ditanam untuk memperbaiki struktur tanah melalui memperbaiki sifat fisik, sifat kimia dan perlahan memperbaiki sifat biologis.

Tanaman ini membantu proses suksesi dari sebuah vegetasi yang secara alami melakukan perbaikan pada tanah. Penanaman legum corp akan menambah bahan organik pada tanah sehingga secara tidak langsung akan menambah unsur hara dalam tanah.

Legum Cover Crop berasal dari jenis Leguminosa atau tanaman kacang – kacangan. Tanaman dari jenis ini memiliki kemampuan mengikat nitrogen dari udara bebas, karena mampu bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium dengan cara menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil akar.
Rhizobium akan melakukan fiksasi nitrogen dari udara lepas sehingga dapat menambah ketersediaan nitrogen di dalam tanah. Jenis-jenis Legum Crop yang biasa digunakan yaitu Calopogonium Caeruleum (CC), Pueraria Javanica (PJ), Calopogonium Mucunoides (CM), Centrosema Pubescens (CP), Mucuna Cochinchinensis (MC), dan Mucuna Bracteata (MB).

Tanaman Fast Growing

Salah satu jenis tanaman yang menentukan keberhasilan revegetasi lahan ialah tanaman pokok atau fast growing. Tanaman pokok merupakan tanaman yang dapat ditanam pada awal kegiatan penanaman dan bersifat cepat tumbuh. Jenis tanaman ini memiliki daur masak tebang maksimal 15 tahun. Kemampuannya yang cepat tumbuh akan membantu proses revegetasi lahan dan lebih mudah dalam meningkatkan kesuburan lahan. Dengan begitu, jenis tanaman lainnya akan mudah tumbuh sehingga terbentuklah ekosistem atau suksesi primer yang baru.

Tanaman pokok akan tumbuh lebih baik jika ditanam bersamaan dengan tanaman cover crops. Keduanya akan tumbuh saling menyuburkan sehingga proses revegetasi dapat berjalan lebih efektif. Tanaman jenis ini lebih baik jika ditanam ketika memasuki awal musim hujan sehingga dapat terhindar dari resiko kematian karena kurangnya air pada musim kemarau.

Keberadaan tanaman pokok yang tumbuh akan memberikan guguran daun yang menjadi seresah sehingga membantu memenuhi kecukupan bahan organik bagi tanah. Selain itu, terdapat manfaat lain yang diberikan tanaman pokok ini diantaranya dapat memecahkan laju angin, mengurangi intensitas cahaya masuk, serta meningkatkan dan menstabilkan kelembaban udara. Tanaman jenis ini pun mampu menciptakan iklim mikro yang sesuai bagi ekosistem hutan yang terbentuk.

Beberapa jenis tanaman pokok yang dapat menjadi rekomendasi pemilihan tanaman revegetasi diantaranya yaitu sengon, pinus, turi, ketapang, trembesi, ekaliptus dan lamtoro. Tanaman berkayu tersebut dapat menjadi naungan bagi tanaman yang hidup di bawahnya sehingga tanaman pokok ini sangat berperan penting dalam kegiatan revegetasi.
Perlu diketahui bahwa dalam pemilihan tanaman pokok atau fast growing, tanaman harus memenuhi kriteria beberapa diantaranya yaitu daun tidak berguguran di musim tertentu, mampu bertumbuh secara cepat dan baik pada tanah yang kurang subur, tidak menjadi inang atau penyakit, tidak menjadi pesaing air serta hara bagi tanaman lain, serta kuat diterpa angin.

Tanaman Sisipan

Tanaman sisipan adalah tanaman lokal endemik kehutanan atau tanaman buah-buahan yang ditanam di sela tanaman pokok reklamasi. Tujuan ditanamannya tanaman sisipan yaitu untuk memperkaya jenis tanaman dan mempercepat terbentuknya ekosistem mikro dipantau dari jumlah satwa yg datang ke lokasi tersebut.

Waktu penanaman yang tepat untuk tanaman sisipan yaitu jika tanaman sisipan termasuk toleran terhadap matahari maka menunggu tajuk pohon tanaman pokok sudah saling menutupi contoh meranti, keruing, eboni. Hal ini bertujuan untuk memberikan proses waktu lebih untuk mendapatkan kondisi tajuk yang cukup, sehingga iklim mikro mendukung pertumbuhan jenis tanaman sisipan. Akan tetapi jika tanaman sisipannya intoleran maka tanaman bisa ditanam setelah tanaman pokok ditanam contoh tanaman buah buahan.

Jenis tanaman sisipan yang dipilih untuk ditanam dapat berupa jenis tanaman produksi lokal dengan tujuan agar masyarakat setempat dapat memperoleh manfaat dari adanya reklamasi lahan tersebut. Terdapat berbagai macam tanaman sisipan yang dapat ditanam pada lahan reklamasi bekas tambang diantaranya seperti pohon pinang, lamtoro gung, mersawa, kapur, ulin, dan gaharu.

Penanaman jenis tanaman sisipan ini sangat penting untuk mencegah terjadinya erosi tanah. Selain itu, eksistensi tanaman sisipan mampu mencegah penyebaran debu dan meminimalisir kebisingan. Guguran daun dari tanaman ini juga dapat membantu dalam proses penyuburan tanah karena menghasilkan bahan organik yang tinggi.

Penanaman tiga jenis tanaman reklamasi ini diarahkan untuk membantu keberhasilan reklamasi. Diawali dengan penanaman tanaman penutup yang membantu meningkatkan kesuburan tanah, dilanjutkan penanaman fast growing untuk membentuk tutupan atas pada lahan dan menciptakan iklim mikro lingkungan sekitar sehingga tercipta ekosistem baru, dibantu dengan tanaman sisipan untuk mempercepatkan terbentuknya ekosistem.