Jika Sayuranmu Tumbuh Tanpa Tanah, Bisakah Tetap Organik?

28 Juli 2017 - Artikel blog

Di tengah modernisasi gaya hidup yang berkembang di masyarakat, kebutuhan pangan pun mengalami perkembangan dan tuntutan yang semakin tinggi. Kualitas pangan menjadi pertimbangan utama di samping kuantitas dan harga pangan itu sendiri. Luasan lahan pertanian yang makin berkurang dari tahun ke tahun, bertolak belakang dengan semakin meningkatnya permintaan kebutuhan akan pangan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut budidaya tanpa tanah mulai menarik untuk dikembangkan.

Ada beberapa metode bertanam tanpa tanah yang bisa dicoba, kali ini kami akan membahas mengenai hidroponik dan aquaponik. Hidroponik muncul dari pemahaman bahwa tanaman hidup bukan karena tanah, tetapi dari unsur-unsur yang terdapat di dalam tanah. Karena itu, jika unsur-unsur yang dibutuhkan terpenuhi, tanaman bisa tumbuh tanpa tanah. Teknik budidaya ini sudah dikembangkan sejak tahun 1800-an. Media tanam pengganti tanah yang kerap digunakan dalam teknik budidaya hidroponik di antaranya serabut kelapa, pasir, pecahan batu, potongan/serbuk kayu, arang sekam, spons, hidroton, dan rockwool. Beberapa komoditas yang dapat dibudidayakan dengan teknik ini adalah paprika, selada, mentimun, tomat, caisim, terong, cabai, melon, dan masih banyak lagi. Penggunaan teknik hidroponik memungkinkan tanaman memperoleh nutrisi yang diperlukan secara terukur untuk meningkatkan kualitasnya. Ketepatan penggunaan nutrisi pada tanaman mampu meningkatkan opimalisasi kandungan mineral dan vitamin pada tanaman. Sehingga dihasilkan produk yang memiliki kandungan mineral dan vitamin yang optimal.

Selain teknik budidaya hidroponik, teknik budidaya tanpa tanah lainnya yang ramai diperbincangkan adalah akuaponik. Akuaponik adalah teknik budidaya yang menggabungkan antara sistem hidroponik dan akuakultur, di mana ikan dibudidayakan bersamaan dengan budidaya tanaman. Singkatnya, sistem akuaponik menyediakan pupuk yang berasal dari kotoran ikan untuk pertumbuhan tanaman. Pada sistem budidaya akuaponik pembudidaya dituntut untuk memahami sifat tanaman dan ikan yang dibudidayakan. Jenis dan jumlah ikan dapat mempengaruhi nutrisi yang terkandung dalam air untuk budidaya tanaman. Tanaman hasil budidaya akuaponik sulit mendapatkan nutrisi yang cukup karena pupuk yang dihasilkan dari kotoran ikan memiliki keterbatasan kandungan nutrisi sehingga sangat diperlukan pengetahuan tentang perbandingan ikan dan tanaman agar nutrisi tanaman dapat terpenuhi dan ikan dapat tumbuh dengan optimal. Kabar baiknya kita tidak perlu menambahkan nutrisi kedalam sistem akuaponik.

Sementara itu banyak yang menanyakan persoalan apakah bertani tanpa tanah masuk dalam kategori pertanian organik? Pertanian organik menurut definisi SNI 01-6792-2002 adalah suatu sistem manajemen produksi holistik yang meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agroekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah. Secara lebih mudah, pertanian organik adalah pertanian yang dalam proses budidayanya mengandalkan bahan-bahan alam tanpa menggunakan bahan kimia sintesis sama sekali. Balitbangtan (2013) menyebutkan beberapa syarat untuk mendapatkan hasil pertanian organik di antaranya adalah penggunaan benih lokal (bukan benih hasil rekayasa genetika); menghindari penggunaan pupuk buatan dan pestisida sintetis; menggunakan tanah, air dan udara secara sehat; meminimalkan semua bentuk polusi; pengendalian penyakit hama dan gulma tidak menggunakan pestisida sintesis. Dengan persyaratan tersebut, pertanian organik diharapkan menjadi sistem pertanian yang ramah lingkungan.

Pada dasarnya budidaya menggunakan sistem hidroponik, akuaponik, dan pertanian organik memberi pilihan tehadap situasi pembudidaya. Setiap sistem budidaya yang dikelola dengan baik dapat memberi dampak yang baik juga bagi lingkungan (Roidah Afifah, Universitas Brawijaya).

Print Friendly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *