Waspada! Penjahat bersayap di Musim Hujan

November 6, 2017 - Artikel blog Berita

Pertumbuhan petani cabai di Indonesia semakin banyak. Hal ini dipicu permintaan pasar terhadap pasokan cabai yang kian melonjak. Ironinya, kondisi pendapatan petani seringkali tak sebanding dengan kerugian akibat serangan hama tanaman. Berdasarkan data IPTEK Puslitbang Hortikultura No.10 – Agustus 2014, saat ini banyak petani mengalami kerugian karena serangan hama lalat buah yang berkisar 20–60%. Semua tergantung jenis buah atau sayuran, intensitas serangan, dan kondisi iklim.

Lalat buah merupakan hama penyebab kerusakan buah tanaman baik muda maupun sudah matang. Salah satu tanaman yang rentan terhadap serangan tersebut ialah cabai. Ternyata, hama lalat buah juga salah satu hama penting tanaman cabai. Indikasi awal buah cabai terserang hama terlihat titik hitam pada pangkal buah. Tanda itu muncul akibat aktivitas lalat dewasa memasukkan telurnya ke dalam buah cabai. Telur akan menetas dan berkembang di dalamnya. Larva di dalam buah cabai menyebabkan kerusakan dari dalam. Buah menjadi kuning pucat dan layu. Akibatnya, kualitas cabai menurun dan tidak layak jual.

Serangan berat hama ini terjadi saat musim hujan. Di mana bekas tusukan ovipositor yakni alat peletak telur serangga (Re: Lalat) betina terkontaminasi cendawan. Buah yang terserang akan busuk dan jatuh ke tanah. Pengendalian ramah lingkungan sangat dibutuhkan untuk mengatasi serangan lalat buah. Berikut beberapa alternatif pengendalian yang efektif, efisien, dan mudah diterapkan.

Pertama, Pembungkusan buah. Hal ini bertujuan melindungi buah dari serangan lalat buah.

Kedua, Menggunakan perangkap atraktan Metil Eugenol (ME) atau Petrogenol. Gunakan 1 ml/perangkap. Perangkap yang dibutuhkan sebanyak 40 buah/Ha. Perangkap dipasang ketika tanaman berusia dua minggu-akhir panen. Ganti atraktan setiap dua minggu sekali.

Ketiga, Memanfaatkan musuh alami, seperti parasitoid Larva dan Pupa (Biosteres sp, Opius sp), Predator Semut, Arachnidae (Baik-baik) Staphylinidae (Kumbang), dan Dermatera (Cecopet).

Keempat, Mengumpulkan buah yang busuk atau terserang hama kemudian dibenamkan ke dalam tanah atau dibakar.

Kelima, Cara ini dilakukan dengan membakar jerami sampai api atau bara menjadi besar. Setelah itu api atau bara dimatikan. Pengasapan selama 13 jam dapat mematikan lalat buah yang tidak sempat menghindar.

Penggiliran (rotasi) tanaman dengan tanaman lain yang bukan famili solanaceae (Terong, tomat, dll).

 

(Tri Umi Asni – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

Print Friendly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *