Pupuk Organik dari Limbah Ikan

Agustus 14, 2019 - Artikel

Danau Toba jadi salah satu danau terluas di Indonesia dengan luasnya 1.100 km2. Kondisi ini membuat danau Toba memiliki potensi perikanan yang luar biasa untuk di jadikan mata pencaharian. Warga lokal hingga perusahaan besar menggunakan danau Toba untuk dijadikan keramba jaring apung. Ada ratusan keramba jaring apung yang berada di pinggiran danau Toba, menurut Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Sumut tahun 2016 produksi ikan keramba jaring apung mencapai 63.000 ton.

Berbanding lurus dengan produksi ikan yang mencapai puluhan ton, limbah ikan atau ikan yang mati (tidak layak konsumsi) mencapai tujuh ton perhari. Kondisi ini memicu bau yang tidak sedap untuk lingkungan di sekitar Danau Toba sehingga menimbulkan ketidaknyamanan. Japfa sebagai salah satu perusahaan yang beroperasi di danau Toba menggandeng Indmira untuk memberdayakan warga untuk mengolah ikan mati menjadi pupuk. Pengolahan ikan mati menjadi pupuk ini juga melihat potensi alam sekitar danau Toba yang mengarah ke pertanian. Pupuk yang dihasilkan ini bisa digunakan untuk lahan pertanian bagi warga sekitar.

Pengolahan pupuk ini tidak serta merta berjalan mudah, Indmira dan Japfa butuh waktu 3 bulan untuk pendekatan kepada warga. Pendekatan ini juga merupakan bentuk sosialisasi kepada warga untuk membangun kesadaran untuk membersihkan lingkungan dan mengurangi polusi bau dari ikan mati. Setelah berhasil sosialisasi maka Agustus ini dilaksanakan pelatihan pengolahan pupuk cair dan pupuk padat organik dari ikan mati.

Selama tiga hari dari Selasa, Rabu dan Jumat (6,7,9 Agustus) pelatihan pupuk organik dilaksanakan di Dusun 4, Tambun Raya, Sidamanik, Medan. Pelatihan ini diikuti 22 orang anggota KWT, dihadiri oleh tamu dari Kecamatan Sidamanik dan tamu dari kelurahan Tambun Raya. Pelatihan ini didampingi oleh Tri Wibowo dari Indmira yang memberi materi dan pendampingan pembuatan pupuk organik.

Pelatihan diawali dengan materi pembuatan pupuk organik cair dan padat agar warga paham langkah-langkahnya terlebih dahulu. Setelah itu warga diarahkan untuk praktik langsung. Pelaksanaan pelatihan ini sedikit lebih lama daripada pelatihan pupuk organik lain. Beberapa alasannya adalah warga harus mengambil ikan dari danau Toba untuk diangkut ke tempat pengolahan pupuknya, ikan yang diangkut jumlahnya mencapai satuan tonase. Kemudian warga harus mencacah-cacah ikannya agar lebih kecil dan siap giling. Kemampuan alat penggilingan ikannya pun terbatas.

Selain itu, warga diajak pula untuk memanfaatkan tanaman Kipait untuk diolah bersama pupuk. Tanaman Kipait ini mampu berfungsi sebagai pestisida nabati. Pupuk organik yang hasilkan dari pengolahan ini bisa mencapai 3-6 ton dan 3000 liter per tiga bulan. Pupuk organik ini nantinya akan dimanfaatkan anggota KWT untuk lahan mereka yang komoditasnya berupa bawang merah, cengkeh, mangga udang dan palawija.

Dari pengolahan pupuk ini, diharapkan dapat mengurangi pencemaran dari danau Toba. Sejalan dengan itu pupuknya dapat digunakan untuk pertanian di sekitar danau Toba sebab diwilayah tersebut harga pupuk cenderung mahal dan pasokan pupuk cenderung sedikit.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *