TEKNOLOGI INDMIRA, PERTAMA DI DUNIA

September 3, 2015 - Artikel

Ide “Gila” yang menjadi nyata

Ungkapan itu mungkin tepat untuk perjalanan Indmira bertani di lahan pasir. Berawal pada tahun 1999, pendiri Indmira Ir Sumarno, tertantang memanfaatkan lahan pasir di pantai Kuwaru untuk bertani. Pantai Kuwaru termasuk wilayah dusun Kuwaru, desa Poncosari, Srandakan, Bantul, sekitar 29 km dari kota Yogyakarta. Keinginan “menaklukkan” salah satu pantai selatan Yogyakarta ini menguatkan niat Ir Sumarno untuk mengembangkan riset tentang lahan kritis. Hal ini tidak terlepas dari keprihatinan dengan banyaknya lahan kritis yang belum termanfaatkan, padahal seiring meningkatnya jumlah penduduk, dibutuhkan lebih banyak pangan.

“Waktu itu kami dikatakan gila, masa bertani di pasir. Apalagi pasirnya mengandung besi, jadi dianggap malah itu seharusnya memang untuk ditambang saja”, ungkap Bintari Rochmi, Direktur R && D Indmira. “Tapi kalau idenya tak “gila” ya bukan bapak”, tambah perempuan ini mengenang Alm. Ir Sumarno.

Bertani di pasir pantai, tentu sesuatu yang ganjil saat itu, jangankan saat itu, sekarangpun kita mungkin masih mengernyitkan dahi jika ditantang bertani di pasir pantai. Terlebih teknologi yang diterapkan Indmira tanpa menambahkan topsoil (material tanah ataupun pupuk kandang) ke lahan. Cara yang umum digunakan dalam pemanfaatan lahan marginal seperti pasir dengan menambahkan pupuk kandang/humus hingga 20 ton/ ha serta tanah ke lahan pasir. “Menambahkan bahan berupa pupuk kandang ke dalam pasir hingga 20 ton/ ha tentu bukan hal yang mudah, dimana mencari pupuk sebanyak itu, dan tentu saja butuh biaya dan tenaga yang tidak sedikit” ungkap D. Andry Aryanto S, peneliti Indmira yang bertugas di lahan penelitian Indmira di Kuwaru.

Berbekal ide gila dan semangat saja tentu tidak cukup, Indmira diuji untuk tekun dan pantang menyerah menguji berbagai teknologi serta formulasi produk untuk pembenah pasir hingga pasir siap ditanami. Dimulai tahun 1999 Indmira yang merupakan perusahaan berbasis riset tetap fokus, tentunya dengan dukungan tenaga peneliti yang antara lain terdiri dari ahli hama penyakit tanaman, agronomi, mikrobiologi, kimia, peternakan, teknik lingkungan dan pertambangan.

Akhirnya pada tahun 2007 Indmira menemukan pupuk organik yang berfungsi sebagai pembenah lahan marginal, termasuk pasir. Waktu yang tidak singkat dan tentu membutuhkan usaha yang tak ringan. Namun apa yang dihasilkan Indmira mampu memperbaiki struktur kimia dan fisik lahan pasir hingga siap ditanami dalam waktu 2 minggu. Tentu saja teknologi ini tanpa penambahan material tanah, ataupun pupuk kandang/humus ke dalam lahan. “Bapak Sumarno berprinsip, kalau bertani di pasir, ya pasirnya yang diolah agar siap ditanami, bukan diberi tambahan berbagai material seperti tanah atau pupuk kandang ke lahan”, tambah Bintari Rochim.

Pembenah tanah yang digunakan Indmira terdiri dari F4, SNN, SAN Tanaman, dan Pembenah Tanah. Jumlah yang diaplikasikan ke lahan relatif sedikit. Masing-masing dibawah 250kg/ ha. Bahkan SNN dan SAN tanaman hanya 20kg/ha. Jumlah ini tentu jauh lebih sedikit dibanding teknologi yang umum digunakan dengan menambahkan hingga 20 ton pupuk kandang/humus tiap hektar lahan.

Kini berbagai tanaman telah berhasil dibudidayakan di lahan pasir Kuwaru. Tanaman tahunan, maupun musiman seperti sayur-mayur telah menunjukkan hasilnya. Bahkan beberapa komoditas seperti kacang tanah menunjukkan hasil panen yang jauh lebih banyak dibanding budidaya di lahan konvensional.

Teknologi ini termasuk yang pertama di dunia, dimana pemanfaatan lahan marginal tanpa penambahan topsoil seperti material tanah dan pupuk kandang/humus. Teknologi yang sama niscaya juga bisa diterapkan di lahan marginak lainnya termasuk gurun yang memiliki karakteristik sama dengan lahan pasir pantai. Jika ini bisa terwujud, upaya menghijaukan bumi bisa menjadi mimpi yang tak cuma hayalan. (Le)

 

 

Print Friendly

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi ditandai *