Ambil Peran Kurangi Angka Deforestasi Hutan dengan Menanam

Deforestasi merupakan perubahan kondisi penutupan lahan dari kategori hutan (berhutan) menjadi lahan kategori Non Hutan (tidak berhutan). Angka deforestasi sangat dinamis dan berubah setiap tahun dengan fakta menunjukkan bahwa kondisi hutan di beberapa tempat di Indonesia semakin menurun kualitasnya dan berkurang luasnya.

Deforestasi (penebangan) yang tidak diimbangi dengan reforestasi (menanam) semakin membuat lingkungan tidak seimbangnya. Akibatnya terjadi bencana alam yang diakibatkan dari kerusakan lingkungan dan perubahan suhu bumi.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengenai deforestasi pada tahun 2018-2019 mencapai angka 0,47 juta Ha sedangkan angka Reforestasi Indonesia tahun 2018 -2019 adalah sebesar 3,1 ribu Ha.

Laju deforestasi hutan lebih besar daripada laju reforestasi

Angka ini menunjukkan laju reforestasi (penanaman) hanya 0,7% dibandingkan dengan laju deforestasi (penebangan). Hal tersebut menunjukkan bahwa 100 Ha lahan hutan yang hilang hanya 0.7 Ha saja lahan yang ditanami kembali.
Dari data tersebut diketahui bahwa beberapa wilayah yang menempati angka deforestasi tertinggi diantaranya yaitu Kalimantan dengan lahan deforestasi seluas 41.500 hektar, Nusa Tenggara seluas 21.300 hektar, Sumatera seluas 17.900 hektar, Sulawesi seluas 15.300 hektar, Maluku seluas 10.900 hektar, Papua seluas 8.500 hektar dan Jawa seluas 34 hektar.

Tingginya laju deforestasi tersebut berhubungan erat dengan adanya permintaan lahan untuk dialihfungsikan. Faktor yang banyak memungkinkan peningkatan laju tersebut dikarenakan adanya alih fungsi lahan sebagai pemukiman, pertanian dan yang paling tinggi terjadi untuk area penambangan.

Ketiadaan hutan sebagai daerah resapan air pun memicu terjadinya erosi karena intensitas air hujan yang turun dan mengalir di permukaan tanah. Apabila erosi ini dibiarkan terus menerus maka dapat mengurangi kesuburan tanah akibat pencucian tanah oleh air hujan serta dapat mengakibatkan banjir dan longsor akibat tanah yang tidak mampu lagi meresap air.

Berpangku dengan permasalahan yang dapat timbul seiring lajunya deforestasi, perlu adanya aktivitas yang mampu menyeimbangkan eksistensi hutan yaitu dengan melakukan reforestasi. Inisiasi ini telah ditindaklanjuti oleh KLHK pada tahun berikutnya sehingga laju reforestasi di tahun 2019-2020 meningkat.

Mengutip dari Mongabay 2021 dalam artikel Angka Deforestasi Indonesia Turun, disebutkan bawha pihak KLHK bahwa Indonesia mampu menurunkan laju deforestasi bersih seluas 115.459 pada periode tahun tersebut. Argumen tersebut dibuktikan dengan pemantauan deforestasi menggunakan citra satelit Landsat 8 OLI. Namun angka ini belum bisa menjadi patokan bahwa Indonesia telah berhasil mengatasi perbandingan laju keduanya mengingat bahwa luasan lahan imbas deforestasi dalam dua tahun terakhir mencapai 570.000 hektar.

Perlu adanya peran bersama yang terintegrasi dari masyarakat, swasta dan pemerintah. Internalisasi mengenai peran dan tanggungjawab yang harus dilakukan secara berlanjut. Tidak ketinggalan penegakan hukum yang tegas bagi pelanggar aturan sehingga menimbulkan perasaan jera bagi oknum penjarah hutan.

Lalu apa peran Indmira dalam mengatasi deforestasi ini?

Indmira mengambil peran untuk melakukan penanaman pada lahan-lahan kritis dan lahan pasca tambang. Melalui layanan reklamasi bekas tambang dan revegetasi lahan, kami memperbaiki fungsi lahan pasca tambang dengan melakukan penanaman. Lahan kritis tanpa top soil dapat kembali dimanfaatkan sehingga tidak ada lagi alasan untuk menanam di lahan kritis.

Indmira mengajak perusahaan dan masyarakat untuk ikut berperan menjadi agen perubahan dalam mempertahankan ekosistem. Selaras dengan misi Indmira untuk menghijaukan Indonesia, kami telah mengambil peran untuk melakukan penghijauan atau reforestasi. Dengan melangkah bersama, kita dapat menghidupi jutaan makhluk hidup yang tinggal di bumi dengan menggerakkan kegiatan penanaman pohon kembali di area bekas tambang.

Ke depan kami memiliki program penanaman hutan dengan melibatkan masyarakat agar tumbuh rasa memiliki dan tanggungjawab. Hutan yang akan kami tanamani adalah hutan konservasi dan hutan lindung yang memerlukan rehabilitasi. Dengan program penanaman yang dilakukan bersama ini diharapkan banyak hutan tumbuh sehingga keseimbangan alam dapat dipulihkan.

Hasil reklamasi tambang pada lahan pasir kuarsa di Bintan, Tanjung Pinang